11 Hadits tentang Doa Malam Pilihan (Qiyam) tarawih dan tahajud

doa pilihan (Qiyam) tarawih dan tahajud

Berdoa di bulan Ramadan, adalah cerdas untuk merencanakan untuk memaksimalkan pahala Anda di bulan yang diberkati. qiyamul lail atau doa malam pilihan, juga dikenal sebagai tarawih dan tahajud, adalah salah satu cara terbaik untuk mencapai tujuan ini.
Keistimewaan dari ibadah khusus ini sangat banyak. Itu dipuji dalam berbagai ayat Alquran dan Hadits. Malam Ramadhan adalah kesempatan sempurna untuk mengembangkan kebiasaan mengamati qiyamul lail.

Berikut ini adalah 11 hadits yang menunjukkan pentingnya Doa Malam Pilihan (Qiyam) tarawih dan tahajud :

1. Untuk mengetahui tentang shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dari Abdullah bin Mas’ud ra. menyampaikan:

“Aku berdiri di belakang Nabi dalam shalat malam beliau. Pada waktu itu, beliau Saw. berdiri sangat lama, hingga aku ingin mengerjakan sesuatu.” Tanya para sahabat lainnya, “Apa yang hendak engkau lakukan pada waktu itu?” Jawab Ibnu Mas’ud, “Aku ingin duduk dan meninggalkan beliau Saw. dalam shalat malam itu.” (Al-Bukhari dan Muslim)

2. Hudzaifah berkata:

Aku shalat bersama Rasulullah pada suatu malam. Maka beliau memulai dengan Surat al-Baqarah, aku berkata beliau ruku’ setelah membaca 100 ayat. Kemudian beliau lakukan hal tersebut pada setiap satu rakaat. Kemudian An nisa’. Kemudian dengan Surat Ali Imran. Beliau membacanya dengan lepas. Jika beliau melewati ayat tentang tasbih, maka beliau mengucapkan tasbih. Dan jika melewati ayat permohonan, maka beliau memohon. Dan jika melewati ayat tentang perlindungan, maka beliau meminta perlindungan”. (Riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya hadis no: 1291)

Penjabaran :

Saya berpikir bahwa dia akan Ruku’ di ujung seratus ayat, tetapi dia melanjutkan; jadi saya berpikir bahwa dia mungkin akan membaca seluruh surat dalam sebuah rakaat. Dia melanjutkan membaca dan saya memiliki keyakinan bahwa dia akan bersujud dalam menyelesaikan Surah. Namun, dia melanjutkan dan memulai [surat] An-Nisaa ’dan membacakan semuanya. Kemudian dia memulai [surat] Aal `Imran dan membacakannya.

Dia membacakan dengan perlahan: ketika dia mencapai sebuah ayat yang mengacu pada Kemuliaan Allah, dia memuliakan Allah; ketika dia membacakan sebuah ayat yang mencakup permohonan, dia akan memohon kepada Allah; dan ketika dia menemukan sebuah ayat yang berhubungan dengan toisti`adha (mencari perlindungan Allah), dia meminta Allah untuk perlindungan.

Kemudian dia Ruku’ dan mengulang (sambil Ruku’): ‘Subhana rabbia al-`adheem’ (Kemuliaan bagi Tuan Yang Kuasa.) Busurnya berlangsung kira-kira sama dengan waktu berdirinya. (Kemudian, kembali ke postur berdiri afterruku`) dia berkata:

Sami` Allahu liman Hamidah rabbana walka al-Hamd
Allah menjawab siapa pun yang memuji-Nya
Ya Tuhan, Punyamu adalah pujian
Dia berdiri kira-kira pada waktu yang sama dengan waktu yang dihabiskannya untuk Ruku’. Dia kemudian bersujud dan berkata:
Subhana Rabbia Al-A`la
Kemuliaan bagi Tuhanku, Yang Mahatinggi
berlangsung hampir sepanjang waktu yang sama dengan kedudukannya.

3. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Semoga Allah menunjukkan belas kasihan kepada seorang pria yang bangun di malam hari dan melakukan Salah, membangunkan istrinya untuk berdoa dan jika dia menolak, dia menaburkan air di wajahnya (untuk membuatnya bangun).

Semoga Allah menunjukkan belas kasihan kepada seorang wanita yang bangun di malam hari dan melakukan Salah, membangkitkan suaminya untuk tujuan yang sama; dan jika dia menolak, dia memercikkan air ke wajahnya. ”(Abu Dawud).

4. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْمَفْرُوضَةِ صَلاَةٌ مِنَ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR:Muslim)

5. Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Ketika Nabi tiba untuk pertama kalinya di Madinah, saya pergi dengan semua orang untuk melihatnya. Ketika saya melihat dia, saya tahu wajahnya bukan seperti seorang pembohong. Kata-kata pertama yang dia katakan adalah,

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahmi, berikanlah makanan dan laksanakanlah shalat pada saat manusia tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi, berkata Tirmidzi : Haditst ini Hasan Shahih )

6. Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allâh merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya, dan semoga Allâh merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” HR Abu Dawud 1113, shahih.

7. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Nabi (damai dan berkah besertanya) berkata, “Barangsiapa melakukan Qiyam (doa malam pilihan) selama Lailat Al-Qadr (Malam Keputusan), karena iman dan berharap akan pahala Allah, dosa masa lalu akan diampuni.” (Al-Bukhari dan Muslim)

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).

8. Salim bin `Abdullah bin` Umar Menceritakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ.

‘Sebaik-baik hamba adalah ‘Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’
HR. Al-Bukhari, kitab al-Jumu’ah, bab Fadhli Qiyaamul Lail, (hadits no. 1122) dan Muslim, kitab Fadhaa-ilish Sha-haabah bab Fiqhi Fadhaa-ili ‘Abdillah bin ‘Umar c, (hadits no. 2479).

Akhirnya ‘Abdullah tidak pernah tidur di malam hari kecuali hanya beberapa saat saja.”

9. `Abdullah ibn` Umar ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Doa malam harus dipersembahkan dua kali dua, kemudian jika kamu takut fajar akan datang, buat [jumlah rakaat yang kamu lakukan] angka ganjil dengan berdoa [tambahan] rak`ah.” (Al-Bukhari dan Muslim)

10. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika salah satu dari kalian bangun di malam hari untuk melakukan doa [malam pilihan], biarkan dia memulai Shalat dengan dua rakaat pendek.” (Muslim).

10. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)

11. Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان – شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله . متفق عليه

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau menguatkan ikatan tali sarungnya (yakni meningkat amalan ibadah baginda), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” Muttafaqun ‘alaihi